Pertumbuhan rohani anak adalah tanggung jawab orang tua

January 21, 2010

Banyak orang tua berasumsi bahwa pendidikan rohani anak-anak mereka sudah aman jika anak-anak mereka sudah masuk sekolah Kristen dan rajin ikut sekolah minggu. Banyak juga gereja yang menyiapkan dana yang lumayan besar untuk bisa mempunyai program sekolah minggu yang baik untuk menyiapkan generasi muda yang taat kepada Tuhan. Walaupun kedua rencana ini sangat baik dan telah terbukti bisa mempersiapkan generasi yang mengenal Tuhan, akan tetapi ini bukanlah rencana utama Tuhan untuk mendidik anak-anak untuk mengenalNya. Rencana utama Tuhan dalam hal ini bisa kita temukan di Ulangan 6: 5-7.

Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 
Ulangan 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
Ulangan 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Di ayat-ayat ini dijelaskan kalau orang tualah yang harus mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak mereka. Charles Spurgeon pernah mengatakan bahwa tangisan ayah atau ibu pada saat berdoa dan mencari Tuhan ketika menghadapi masalah tidak bisa digantikan oleh pendeta atau guru sekolah minggu. Anak-anak kita hanyalah melihat guru agama atau guru sekolah minggu beberapa jam dalam seminggu. Anak-anak kita tidak punya kesempatan melihat apa respons guru sekolah minggu mereka ketika guru sekolah minggu sedang menghadapi masalah dalam hidupnya. Akan tetapi anak-anak kita punya banyak kesempatan untuk melihat bagaimana orang tua mereka akan merespons ketika menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang bilang kalau karakter itu adalah perilaku kita ketika kita berada di rumah. Dan inilah yang dicontohi oleh anak-anak kita yang tinggal serumah dengan kita. Jika karakter Kristrus ada di kita dalam kehidupan sehari-hari kita, inilah yang akan menjadi panutan yang baik untuk anak-anak kita.

Di ayat 6 disebutkan “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan” dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James, kalimat ini diterjemahkan sebagai “apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah berada di dalam hatimu”.

Ulangan 6:6 (King James version) And these words, which command thee this day, shall be in thine heart

Firman Tuhan hanya bisa benar-benar ada di dalam hati kita, ketika kita merenungkannya dan telah melaksanakannya dalam kehidupan kita. Jadi sebagai orang tua kita haruslah menjadi pelaku firman Tuhan supaya apa yang kita ajarkan kepada anak kita, bukan sekedar teori saja. Jadi bukan guru sekolah minggu, pendeta atau hamba Tuhan saja yang harus benar-benar menjadi rohaniwan. Sebagai orang tua, kita juga harus hidup suci, mengenal firman dan melaksanakannya, jika kita ingin anak-anak kita bisa mengenal Tuhan sejak usia muda mereka dan supaya nanti kehidupan mereka ketika dewasa tidak jatuh dalam dosa.


Sampai Kematian Memisahkan Kita

November 13, 2009

Perkawinan pasangan Kristen itu adalah permanen sampai salah satu meninggal (lihat Roma 7:2, Lukas 16:18 dan Mar 10:11-12). Tetapi kalau kita baca di Matius 19:8-9 kenapa disebutkan bahwa perkawinan itu bisa diakhiri kalau zinah, sedangkan di kitab Lukas dan Markus tidak ada pengecualian ini. Saya mendalami ayat-ayat mengenai kawin dan cerai kurang lebih selama 3 tahun sebelum menemukan kebenarannya. Kenapa di Lukas dan Markus tidak ada pengecualian di luar kematian pasangan kita untuk menikah lagi, sedangkan di kitab Matius ditambahkan zinah sebagai pengecualian? Mungkinkah kitab-kitab di alkitab itu tidak konsisten satu sama lain?

Kitab Lukas dan Markus ditulis untuk orang Kristen di gereja mula-mula yang bukan orang Yahudi, sedangkan kitab Matius itu ditulis untuk orang Yahudi. Apakah firman Tuhan mengenai perkawinan dan perceraian berbeda untuk Yahudi dan non Yahudi. Ternyata bagi bangsa Yahudi, pertunangan itu dianggap seperti perkawinan, dan untuk pertunangan itu diakhiri dibutuhkan surat cerai. Waktu Maria mengandung Yesus, Yusuf sudah merencanakan untuk menceraikan Maria (Mat 1:19), karena sudah hamil pada saat bertunangan, dan Yusuf mengetahui bahwa anak yang dikandungi Maria bukanlah anak kandung Yusuf. Dan kenapa hal ini hanya disebutkan di kitab Matius dan tidak pernah disebutkan di kitab-kitab yang lain bahwa Yusuf hendak menceraikan Maria.

Selain itu juga orang Yahudi dikenal ada yang suka menikah dengan kerabat dekat, tetapi hal ini sebenarnya dilarang Tuhan (Imamat 18). Jadi sebenarnya perceraian yang dibolehkan di kitab Matius adalah pertunangan (bukan perkawinan) yang diputuskan ketika salah satu berzinah atau karena telah terjadi perkawinan antara kerabat dekat.

Penjelasan ini membuktikan bahwa sebenarnya perkawinan Kristen itu adalah perkawinan permanen sampai salah satu meninggal. Alasan ekonomi, perselingkuhan, kekerasan, ketidak harmonisan, atau apapun alasannya bagi Tuhan itu tidak cukup untuk terjadinya suatu perceraian di antara pasangan Kristen. Tetapi kenyataannya, banyak gereja yang memperbolehkan kawin cerai walaupun pasangannya masih hidup. Kalau perceraian atau kawin lagi dibolehkan karena zinah, bagaimana dengan suami yang dipenjara selama 40 tahun misalnya, dan karena kasihan isteri harus hidup terbiar tanpa suami maka diperbolehkan untuk cerai dan kawin lagi. Tetapi tidak ada ayat pengecualian di alkitab yang mengatakan kalau boleh cerai karena pasangan kita masuk penjara dalam jangka waktu yang panjang. Manakah yang lebih berat bagi sang isteri, menunggu setia suami yang di penjara selama 40 tahun atau mendapatkan suami selingkuh kemudian memaafkan suami yang  kedapatan selingkuh itu?

Bagi isteri yang sudah diceraikan sama suami tetapi suami masih hidup, apakah isteri yang sudah diceraikan itu boleh kawin lagi? Ada gereja atau pendeta yang mengajarkan menurut 1 Timotius 5:14 bahwa janda muda dianjurkan kawin lagi supaya tidak jatuh dalam dosa. Hal ini tidak tepat, karena arti janda di sini adalah janda yang suaminya sudah meninggal. Sebab kalau tidak ini bertolak belakang dengan yang diajarkan di 1 Korintus 7:39 di mana dikatakan bahwa isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya. Kembali lagi alasan yang sama saya gunakan, tidak mungkin ajaran-ajaran Tuhan di alkitab bertentangan satu sama dengan yang lain.

Saya berdoa untuk semua anggota tubuh Kristus bisa dibukakan mata rohaninya untuk mengerti hal ini. Sudah waktunya kita berhenti mendukakan hati Tuhan dengan memperbolehkan perceraian bagi pasangan Kristen karena hal ini dibenci oleh Tuhan (Mal 2:16).  Gereja ataupun pendeta yang mengiyakan seseorang untuk menikah lagi selagi pasangannya masih hidup sama seperti menyetujui perceraian yang sudah terjadi itu terjadi. Bagi yang diceraikan oleh pasangannya, hendaklah dia menjadi saksi Kristus dengan tetap memegang janji perkawinan yang diucapkannya di hadapan Tuhan walaupun pasangannya telah mengingkar janji itu.

Pernikahan Kristen itu adalah hanya sekali sampai pasangan kita meninggal seperti janji perkawinan ”till death do us apart”. Kita harus setia terhadap Tuhan dan bukan melihat segala kekurangan pasangan kita, apapun kesalahan yang telah dia lakukan bagi kita.


Hal yang paling utama dalam hidup kita

September 14, 2009

Sering kegagalan terjadi karena kita menfokuskan usaha kita di hal-hal yang kurang penting. Hal-hal yang kurang penting mendapatkan prioritas lebih dibandingkan dengan hal-hal yang seharusnya lebih utama. Misalnya seorang striker di suatu tim sepak bola yang jatuh cinta dengan beraksi membawa bola secara spektakular tetapi lupa kalau tujuan utamanya adalah mencetak gol sehingga akhirnya timnya kalah dalam pertandingan karena dia memilih bermain cantik tapi tidak mencetak gol satupun. Banyak orang-orang Kristen yang menfokuskan hidup mereka bukan ke hal-hal yang yang utama menurut Tuhan dan ini mengakibatkan rohani mereka tidak bertumbuh secara maksimal. Dan akibatnya dosa-dosa tertentu tetap masih menguasai hidup mereka walaupun sudah lama ikut Tuhan.

Jadi apakah tujuan utama seorang pengikut Yesus? Tujuan utama kita sebagai orang percaya, bukanlah untuk masuk surga, walaupun masuk surga itu adalah bagian kita sebagai orang percaya. Tujuan utama orang Kristen juga bukanlah berkat, walaupun berkat rohani dan jasmani sudah dijanjikan Tuhan kepada kita. Tujuan utama kita sebagai orang Kristen juga bukanlah untuk bisa berbicara roh atau bisa mengkotbah atau bersaksi dengan penuh urapan dari Tuhan walaupun kemampuan seperti ini sudah Tuhan sediakan bagi mereka yang sungguh-sungguh melayani Dia.

 Mari kita lihat apa yang menjadi tujuan utama dalam hidup kekristenan. Di Roma 8:29 disebutkan kalau kita sebagai orang percaya telah “ditentukan” sejak semula oleh Tuhan untuk menjadi serupa seperti Yesus, supaya Yesus menjadi saudara kita yang paling sulung. Ini berarti rencana Tuhan bagi kita adalah supaya kita semakin hari semakin serupa dengan putraNya. Visi Bapa di surga adalah suatu hari surga akan penuh dengan orang-orang yang karakternya seperti Tuhan Yesus.

Dalam perjalanan hidup kita, haruslah kita senantiasa mengevaluasi diri kita sendiri, apakah karakter kita semakin hari sama seperti Yesus yang rendah hati, sabar, penuh kasih, mudah mengampuni, menang atas dosa dan menomor satukan kehendak Bapa di surga dalam segala aspek kehidupan kita.  Jika ya, kita sedang berjalan ke arah yang benar.  Jika tidak, kita mungkin sedang menfokuskan usaha/waktu kita ke hal-hal yang tidak begitu penting menurut Tuhan dan kita perlu bertobat.


Lahir Baru

September 10, 2009

Yesus mengatakan tidak ada seorang pun yang bisa melihat kerajaan Allah jika ia tidak dilahirkan kembali (Yohanes 3:3).  Apa yang dimaksudkan Tuhan dengan dilahirkan kembali atau lahir baru?

Seorang penginjil dari Inggris yang hidup di tahun 1700an bernama George Whitfield mengatakan bahwa perbedaan antara orang yang sudah lahir baru dengan yang belum lahir baru, haruslah sangat berbeda, sehingga teman atau keluarga yang ada di sekitarnya  sepertinya sudah lama tidak berjumpa dengannya selama 20 tahun.  Di 2 Korintus 5 ayat 17 dikatakan kalau kita di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru, yang lama sudahlah berlalu. Manusia lama kita sudahlah mati, dosa dan keinginan untuk berdosa sudah disalibkan bersama Kristrus,  dan kita dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru yang makin hari makin mencerminkan kemuliaan Tuhan.

Tapi kenyataan seringlah tidak seperti yang digambarkan di atas. Banyak orang yang mengaku Kristen, tetapi hidupnya tidaklah berubah. Padahal mereka sudah dibaptis dan menjadi anggota gereja bahkan ikut pelayanan. Secara moral hidupnya masih tetap sama atau bahkan bisa lebih parah dibandingkan dengan mereka yang tidak percaya Yesus. Mereka masih saja jatuh dalam dosa seperti perzinahan, cerai dan kawin lagi, menginginkan kepunyaan orang lain, berbohong, kemarahan yang tidak terkendali, suka iri, tidak bisa memaafkan, balas dendam, bahkan ada yang mulai mengikuti agama lain karena ikut kepercayaan pasangannya.  Mereka melakukan apa yang mereka anggap baik demi keuntungan mereka atau demi keuntungan teman atau saudara mereka dan bukan atas keinginan untuk memuliakan Tuhan semata-mata. Mereka memilih-milih firman Tuhan mana yang cocok buat mereka dan yang mana yang tidak perlu mereka ikuti. Kebenaran firman tidaklah absolut bagi mereka.  Tuhan tidaklah selalu nomor satu di kehidupan mereka di setiap saat. Tuhan menjadi nomor satu hanya jika itu tidak perlu banyak pengorbanan dalam kehidupan mereka. Jika mereka harus menderita atau hidupnya menjadi kurang nyaman karena harus melakukan kehendak dan perintah Tuhan, Tuhan di nomor duakan. Mereka tidak punya beban pada saat melihat orang yang belum percaya karena mereka sendiri tidak mengerti dan belum mengalami apa itu diselamatkan.

Padahal jelas dikatakan di Yohanes 15:5, jika kita di dalam Yesus, kita akan berbuah banyak. Dan bukanlah berdosa banyak.

Mungkinkah banyak mereka yang mengaku Kristen dan bahkan sudah dibaptis, sebenarnya belum mengalami kelahiran baru? Atau kelahiran mereka sebagai ciptaan baru, masih prematur.

Kelahiran baru itu terjadi di mana Tuhan bekerja secara misterius merubah dan mengadopsi kita menjadi anakNya. Ini adalah karya Roh Kudus, di mana roh Tuhan Allah yang maha kuasa, menjamah dan merubah kita. Misalnya jika saya dilindasi truk trailer dan saya kelihatan normal seperti sebelumnya pastilah anda tidak akan percaya jika saya mengatakan kepada anda kalau saya baru saja dilindasi truk. Pada saat kita lahir baru, kita dijamah dan dilindas oleh roh dari Tuhan sendiri, yang jauh lebih dahsyat dan besar dari sebuah truk trailer, dan kita menjadi tidaklah sama seperti semula.  Kita menjadi ciptaan yang baru di mana kita akan mulai melakukan keinginan Bapa dan bukan keinginan kita sendiri.

Ingat manusia yang belum lahir baru, bapanya adalah iblis, kecenderungan hatinya adalah melakukan kehendak iblis (Yoh 8:44). Ini sesuatu kutuk yang diwariskan kepada kita sebagai keturunan Adam dan Hawa.

Tanpa kelahiran baru kita hanya menjadi Kristen KTP yaitu kristen tanpa pertobatan. Salah satu “birth mark” (tanda lahir) orang yang sudah lahir baru adalah adanya rasa tidak nyaman pada saat berbuat dosa lagi.

Hanya dengan lahir barulah kita bisa dengan benar mentaati kehendak Bapa di surga. Hanya dengan lahir barulah kita bisa melihat kerajaan Tuhan menjadi nyata dalam hidup kita. Kita tidak harus tunggu Yesus datang kedua kali untuk bisa melihat kerajaan Tuhan. Kita mulai bisa mengecap atmosfir surgawi dalam hidup kita ketika kita diadopsi oleh Tuhan sebagai anakNya, roh Tuhan mulai berdiam di dalam kita, firmanNya ditulis di hati kita dan kita dimampukan untuk menang atas dosa.

Keagamaan tidak akan membawa kita ke kerajaan surga (Mat 5:20). Hanya pengalaman pribadi dengan Roh Tuhan sendirilah itulah yang sanggup memberikan kita hati yang baru yang akan menyelamatkan kita.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.